Rabu, 06 April 2011

SANTRI DAN KITAB KLASIK

SANTRI DAN KITAB KLASIK
Ali Asyhar 
            Santri, Pesantren, Kyai dan Kitab klasik adalah kata yang selalu bersanding. Kitab klasik ( baca: kitab kuning) adalah ruh dalam dunia santri. Di dalamnya termaktub khazanah peradaban islam dari masa ke masa. Kitab klasik menjdi perekam akurat dinamika keilmuan, sastra, seni, politik, budaya pasca wafatnya Muhamad SAW.
Awalnya banyak yang mencibir bahwa bersandar kepada kitab kuning hanya akan menjadikan pikiran jumud, ortodoks dan segudang kata pesimistis lainnnya. Namun kini terbukti bahwa dengan berpijak pada khazanah kuno tersebut kita bisa bercermin banyak hal untuk memotret peradaban masa depan. Bukan hanya dalam soal hukum agama (fiqh) bahkan dinamika politik kekinian juga tak jauh beda dengan dinamika politik masa lalu. Bagi mereka yang percaya reinkarnasi hakikatnya setiap zaman adalah jelmaan dari zaman sebelumnya. Yang membedakan hanyalah pemain, waktu , tempat serta piranti pendukungnya. Sejarah kejatuhan bangsa Babilonia, Romawi dan Persia misalnya bila kita komparasikan dengan bubarnya Uni soviet dan Yugoslavia maka kita akan menemukan satu penyebab yang sama yakni ketamakan manusia. Dengan beragam variasi istilah ketamakan manusia berujung bagi kehancuran sebuah bangsa. Di yakini factor ketamakan manusia juga yang akan menghancurkan aneka bangsa dan peradaban di masa mendatang.
Khusus dalam masalah hukum agama kita akan dibuat takjub dengan kejelian para ilmuwan (faqih) islam kuno karena kejadian terkini yang perlu dicarikan solusi hukumnya ternyata jawabannya telah ada dalam kita kuning. Dengan cara analogi (qiyas) semua persoalan masa kini menjadi terurai.  Persoalan yang kita anggap benar-benar baru seperti bayi tabung, cloning, tes DNA, hukum pembuktian terbalik telah terekam dengan gamblang. Bahkan andaikan nanti manusia akan hijrah ke planet lain sudah ada jawabannya tentang bagaimana ubudiyah dan  muamalahnya. Bagi sebagian orang yang emoh dengan kitab kuning tentu akan berpusing ria menemukan jawaban dari masalah di atas. Tak hanya masalah syariah, kitab klasik juga detail mengkaji politik ( misalnya :  Ahkam al-Shulthaniyah), sejarah ( Sirah an-Nabawiyah), kedokteran ( Tibb an-Nabawy)  prosa, syair, astronomi bahkan sampai pendidikan sex ( Qurrat al- Uyun).
Santri begitu bangga dengan kitab kuning. Bukan hanya karena isinya yang berkualitas tetapi diyakini bahwa para penulisnya adalah orang yang tulus dalam menyebarkan kebaikan. Wajar bila penghormatan santri kepada penulisnya juga tinggi. Selain selalu mendoakan penulisnya tiap kali membacanya tetapi santri akan mencari geneologi (sanad) keilmuan secara bersambung (mutawatir). Ini dimaksudkan untuk menjaga orisinilas isi kitab dan mencari keberkahan yang oleh sebagian orang dianggap lucu. Penghormatan santri terhadap kitab klasik juga diwujudkan dengan etika cara membawa dan menciumnya ketika akan memulai dan selesai membacanya.
Hingga kini para santri terus melestarikan tradisi menulis, utamanya resume dari kitab kuning. Ustadz Asmuni Kediri, Idrus Ramli Jember adalah dua diantara nama-nama penulis produktif dari kalangan pesantren. Bahkan sejak era 80 –an telah mewabah para santri menyandingkan kitab kuning dengan buku-buku babon sosialis. Mereka ingin mencari kesamaan pandangan antara paradigma islam dan sisoalisme. Bahkan mereka mulai berani mencari kesamaan antara dogma islam dengan agama samawi dan non samawi  yang lain. Ikhtiar ini membuahkan hasil yang gemilang. Sejak era 80-an para santri mempelopori kajian-kajian kritis social, budaya dan politik. Bahkan lebih jauh mereka bergandeng tangan dengan pemeluk agama lain untuk merajut kebersamaan dalam berbangsa. Hampir merata di seluruh Indonesia muncul kerukunan umat beragama (KUB) yang dipelopori oleh santri. Santri juga menjadi pionir dalam memperjuangkan pluralisme dan kebhinekaan.
Kesetiaan santri terhadap kitab kuning juga berbuah manis dari sisi lingusitik. Di pesantren Jawa dalam mengartikan (memaknai) literature kuno tersebut juga memakai bahasa Jawa Kromo Inggil. Bahkan di yakini bahwa hanya pesantrenlah yang konsisten menjaga bahasa Jawa kromo Inggil ini ditengah masyarakat yang mulai meninggalkannya. Kata – kata seperti utawi, iku, ing- atase, ingkang, yento, kerono, apane, ing dalem, weneh, mertelaake adalah diantara kata yang tetap eksis di pesantren. sedangkan masyarakat di luar pesantren sudah merasa asing dengan kata-kata tersebut. Bukan hanya di pesantren, saat para santri berbaur dengan masyarakat bahasa Kromo Inggil juga selalu melekat. Bukan hanya pesantren Jawa, tetapi Pesantren di Madura, Sunda, Betawi dan lainnya juga setia dengan bahasa daerahnya. Dengan demikian pesantren dengan kitab klasiknya memainkan  banyak peran. Di samping menjaga isinya tak kalah penting lagi pesantren menjadi sub-kultur dari masing-masing daerahnya. Peran ini mustahil di jalankan oleh siapapun yang tidak mau lagi bersentuhan dengan kitab kuning.
Walhasil, kitab klasik yang lebih populer dengan kitab kuning ( karena bisanya kertasnya berwarna kuning) adalah khazanah intelektual yang penting. Ia bisa ditandingkan kualitasnya dengan buku – buku kontemporer baik  subtansi maupun linguistiknya. Pilihan santri untuk menekuni kitab kuning sembari membuka diri bagi ilmu kekinian adalah sebuah usaha yang tepat dan cerdas.

Ali Asyhar , Ketua Lakpesdam NU Bawean

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top